..waktunya mulai aqiqah,dapatkan souvenir cantik untuk setiap pesan

Kamis, April 21, 2022

wanita seutuhnya




Menjadi sosok perempuan yang layak mendapatkan hak-haknya. Menjadi perempuan yang seharusnya pintar, berbudi dan mandiri.

“Tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya”. Di sini Kartini menegaskan perempuan tidaklah harus menjadi sesosok lelaki untuk mendapatkan apa yang menjadi haknya. Jadilah sosok perempuan apa adanya.

Sosok yang lemah lembut, berbudi pekerti luhur, bertanggung jawab terhadap rumah tangganya, sebagai sosok ibu bagi anak-anaknya, dan juga sebagai kekasih hati bagi suaminya.

Kartini berharap, perempuan di negeri ini bisa mendapatkan haknya sebagai manusia yang layak. Tanpa harus ada batasan gender dan sebagainya. Perempuan sudah selayaknya bekerja sesuai dengan kemampuannya, berkarya sebisanya, namun juga tak lepas dari tanggung jawab sebagai sesosok ibu di dalam rumah tangganya kelak.

“Pergilah, laksanakan cita-citamu. Bekerjalah untuk hari depan,” tulis Kartini dalam suratnya kepada Nyonya Abendon, 4 September 1901. Puluhan tahun yang lalu, Kartini sudah menegaskan dan menganjurkan kepada perempuan, untuk bisa menggapai cita-citanya setinggi langit.
Meski begitu, emansipasi wanita janganlah diterjemahkan sebagai kebebasan yang salah kaprah. Emansipasi bukan berarti harus mengalahkan laki-laki dalam segala hal. Dan juga, bukan berarti harus bebas berbuat seperti yang diperbuat oleh lelaki.

Kartini menginginkan perempuan yang bersikap sesuai porsinya, dan bisa menempatkan posisinya sebagaimana fitrahnya seorang perempuan. “Alangkah bahagianya laki-laki, bila isterinya bukan hanya menjadi pengurus rumah tangganya dan ibu anak-anaknya saja, melainkan juga jadi sahabatnya, yang menaruh minat akan pekerjaannya, menghayatinya bersama suaminya.” (Kartini, 4 Oktober 1902).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar





Belanja online

Cari Toko Bunga Bogor?