Rabu, Maret 31, 2021

Teryata Saudaranya pejabat


   Ku hela nafas dalam dalam,ketika kudengar  dan juga ku baca berita tentang korupsi di negri ini. Seorang pejabat yang memiliki kewenangan dan kekuasaan dengan mudah nya korupsi atas dana bantuan untuk covid 19,seorang pejabat dengan kekuasaannya korupsi lagi untuk kasus yang lain bahkan di laluinya dengan melibatkan keluarganya.

   Begitu gampang dan begitu mudahnya mereka mereka ini melakukan dengan tidak mempedulikan lagi akibat dari korupsi,sungguh keji yang seharusnya dana itu sampai ke masyarakat malah disikat di tengah jalan. Tidak takutnya akan azab dari Alloh atas apa yang dilakukan dengan memakai dana haram untuk kepentingannya. Mungkin sudah wajar juga ketika negri ini selalu ditimpa musibah karena banyak melakukan kejahatan korupsi di negri ini. Segala sesuatu yang haram pun juga di makan dan menjadi tidak wajar ketika tidak memakan dana haram dan  tidak dilakukan. Bayangan kehidupan negri madani bagai jauh sekali untuk dirasakan.

   Negri dengan hutang yang sudah banyak dan bisa sampai ke cucu kita yang menanggungnya , hutang negara pastinya juga berbunga karena pinjamnya ke lembaga dunia yang pasti ribawi,  yang di atas ribawi yang dibawah juga tidak salah kalau melakukan prakrek ribawi. 

   Kehidupan ribawi juga sudah meraja lela sampai ke kampung kampung yang sangat membuat dada sesak terasa karena ibu ibu sudah dengan mudah meminjam dan pinjamnya ke rentenir walau mungkin berkedok koperasi atau yang lainnya.

   Kehidupan masyarakat yang sudah mementingkan diri sendiri dan tidak peduli apakah yang dilakukan halal atau haram juga dilakukan ,apakah ini kaitannya ada hak orang lain atau tidak ,jadi tidak peduli sekali yang penting untuk dirinya dulu.

   Skeptis rasanya melihat negri ini,bisa kah keluar dari beban hutang negri...,ngapain dipikirin kata orang ...

Dibawah ini sebuah kisah yang dapat menjadi pelajaran kehidupan .

*KISAH WANITA BERHATI MULIA  MEMINTAL BENANG* 

   Suatu hari Imam Ahmad bin Hanbal ra dikunjungi seorang wanita yang ingin bertanya.

“lmam, saya adalah seorang perempuan yang sudah lama ditinggal mati suami. Saya ini sangat miskin, sehingga untuk membesarkan anak-anak, saya memintal benang di malam hari, sementara siangnya saya gunakan untuk mengurus anak-anak saya dan bekerja sebagai sebagai buruh kasar.”

“Karena saya tak mampu membeli lampu, maka pekerjaan memintal benang itu saya lakukan apabila bulan terang.”Imam Ahmad ra mendengar dengan serius percakapan perempuan tadi. Perasaannya tersentuh mendengar ceritanya yang menyayat hati.

   Beliau yang memiliki kekayaan lagi dermawan sebenarnya telah tergerak hati untuk memberi bantuan sedekah kepada wanita itu, namun ia tangguhkan dahulu hasratnya karena ingin mendengar semua ucapan si ibu tadi. Si ibu pun meneruskan ceritanya.“Pada suatu hari, ada satu rombongan kerajaan telah berkemah di depan rumah saya. Mereka menyalakan lampu dalam jumlah yang amat banyak sehingga sinarnya terang benderang. 

   Tanpa sepengetahuan mereka, saya segera memintal benang dengan memanfaatkan cahaya lampu-lampu itu. Tetapi setelah selesai saya sulam, saya bimbang, apakah hasilnya halal atau haram kalau saya jual? Bolehkah saya makan dari hasil penjualan itu? Sebab, saya melakukan pekerjaan itu dengan diterangi lampu yang minyaknya dibeli dengan uang negara, dan tentu itu adalah uang rakyat.Imam Ahmad ra terpesona dengan kemuliaan jiwa wanita itu. Ia begitu jujur, di tengah masyarakat yang rusak akhlaknya dan hanya memikirkan kesenangan sendiri, tanpa peduli halal haram lagi. Padahal jelas, wanita ini begitu miskin lagi fakir.Maka dengan penuh rasa ingin tahu, Imam Ahmad ra bertanya, “Ibu, sebenarnya engkau ini siapa?”Dengan suara serak karena penderitaannya yang berkepanjangan, wanita ini mengaku, “Saya ini adik perempuan Basyar Al-Hafi.”Imam Ahmad rahimahullah makin terkejut. Basyar Al-Hafi ra adalah Gabernur yang terkenal sangat adil dan dihormati rakyatnya semasa hidupnya. Rupanya, jabatannya yang tinggi tidak disalahgunakannya untuk kepentingan keluarga dan kerabatnya. Sehingga adik kandungnya sendiri pun hidup dalam keadaan miskin.

   Dengan menghela nafas berat, Imam Ahmad ra berkata, “Pada masa kini, ketika orang-orang sibuk mengumpul kekayaan dengan berbagai cara, bahkan dengan menyalahgunakan uang negara serta menyusahkan rakyat yang sudah miskin, ternyata masih ada wanita terhormat seperti engkau. lbu, sungguh, sehelai rambutmu yang terurai dari celahan jilbabmu jauh lebih mulia jika dibanding dengan berlapis-lapis serban yang kupakai dan berlembar-lembar jubah yang dikenakan para ulama.”Imam Ahmad melanjutkan,Subhanallah, sungguh mulianya engkau, hasil sulaman itu engkau haramkan? Padahal bagi kami itu tidak apa-apa, sebab yang engkau lakukan itu tidak merugikan keuangan negara.Imam Ahmad ra begitu terharu mengucapkan kalimatnya, “Ibu, izinkan aku memberi penghormatan untukmu. Silakan engkau meminta apa saja dariku, bahkan sebagian besar hartaku, niscaya akan kuberikan kepada wanita semulia engkau…”

Diriwayatkan dari Abu Bakr Ash-Shiddiq, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ جَسَدٌ غُذِيَ بِحَرَامٍ

“Tidak akan masuk ke dalam surga sebuah jasad yang diberi makan dengan yang haram.”

(Shahih Lighairihi, HR. Abu Ya’la, Al-Bazzar, Ath-Thabarani dalam kitab Al-Ausath dan Al-Baihaqi, dan sebagian sanadnya hasan. Shahih At-Targhib 2/150 no. 1730).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Belanja online

AL-An'am di muat di POS DESA&SUNDA URANG

AL-An'am di muat di POS DESA&SUNDA URANG
POS DESA dan Majalah Sunda Urang

Jasa sewa mobil untuk acara

Jasa sewa mobil untuk acara
Dijamin Murah

Cari Toko Bunga Bogor?