Kamis, Mei 14, 2020

Titik nol.... .(0)


Sebuah ilustrasi....saja
Andaikan mukmin mengetahui azab yang disediakan Allah; niscaya tidak ada seorangpun yang berharap bisa mendapatkan surga-Nya. Dan seandainya orang kafir mengetahui kasih sayang yang ada pada Allah; niscaya tak ada seorangpun yang tidak berharap bisa meraih surga-Nya”. (HR. Muslim)


Lima tahun berusaha meninggalkan riba. Setelah rumah yg tidak ditempati di jual, mobil dan semua perhiasan yg bisa menjadi uang dijual untuk menutupi hutang riba.

Ngeri ? iya, karena kami ( saya dan suami) keluar juga dari pekerjaan sebagai marketing koperasi dimana kami menawarkan pinjaman-pinjaman riba juga. Otomatis penghasilan kami tidak ada sedangkan hutang non riba kami masih menggunung. Tapi kami lebih ngeri lagi kalau tetap dalam kubangan riba.

Mulailah kembali ke titik nol, mencoba jualan kecil-kecilan di rumah yang akhirnya bangkrut juga. Dan kami bertahan untuk tidak meminjam uang kepada siapapun karena kami sadar bahwa hutang kami masih banyak.

Anak kami yang ke dua minta berhenti sekolah di esemka ( bukan mobil ) karena melihat kami tidak punya uang.
Dia memutuskan untuk mencari pesantren tahfizh yang gratis. meskipun awalnya kami keberatan tapi dia keukeuh dengan keputusannya. sambil berlinang air mata dia bilang "bukankah bunda dulu pernah bilang ingin anaknya jadi penghafal quran? kenapa sekarang pada saat saya mau dilarang ?" pedih mendengarnya dan akhirnya kamipun mengiyakan.

Pernah ngalamin tidak punya beras dan makanan yang bisa dimakan hari itu, uangpun kurang dari sepuluh ribu di tangan.  Saya silaturahmi ke rumah teman yang tidak jauh dari rumah.

Ngobrol ngobrol sebentar, lumayan bisa ketawa ketiwi menghilangkan lapar sejenak. pulangnya di bawakan apel dua buah, pir satu dan minuman permentasi satu pack isi lima.

Alhamdulillah, pikirku lumayan bisa buat makan siang kami ber tiga.

Diperjalanan saya melewati rumah teman yang punya piutang sudah lama tidak pernah bayar lagi. Ada rasa sedih dalam hati, kenapa dia tega melakukan itu padahal uang yang di pinjamkan itu adalah tabungan terakhir yang tadinya mau dipakai buat modal. Tapi ya sudahlah, saya sudah terlalu cape menagihnya dan enggan untuk memasang wajah memelas seperti dia ketika pinjam uang.

Sambil terus melangkahkan kaki menuju rumah tiba tiba anak anak kecil ber tiga lari ke arahku. "Bunda..bunda...salim" , mereka berebut meraih tanganku.
Saya berhenti sebentar dan melayani mereka. Ya, anak anak itu selalu menyambut dengan keceriaannya. Mereka anak teman saya yang punya utang. Tapi anak anak itu tidak berdosa dan tidak tahu apa apa, kukeluarkan satu pack minuman pemberian teman tadi lalu kuberikan pada mereka, "nih buat kalian, bagi adek yang di rumah ya"  mereka bersorak sambil mengucapkan terima kasih.

Saya pun melanjutkan perjalanan pulang.
Sampai di rumah suamiku bilang, tadi ada teman datang bawa bingkisan. Lalu kubuka bingkisannya, ya Allah saya nangis dan bergetar membuka isinya  ternyata ada beras, sarden, minyak goreng , telur. Alhamdulillah cukup untuk satu minggu.
Makin percaya, Allah tidak akan membiarkan kami kelaparan.

Tangerang 12052020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Belanja online

AL-An'am di muat di POS DESA&SUNDA URANG

AL-An'am di muat di POS DESA&SUNDA URANG
POS DESA dan Majalah Sunda Urang

Jasa sewa mobil untuk acara

Jasa sewa mobil untuk acara
Dijamin Murah

Cari Toko Bunga Bogor?