Rabu, Mei 13, 2020

Donat bakar.....

Donat Bakar
Sunguh kadang kita tidak menyadari bahwasanya dalam kehidupan sehari hari ada hikmah yang bisa kita ambil....
Tenyata epidemi corona ini pun banyak hikmah yang bisa kita dapat kan....
Sebagai mana cerita dibawah ini

Donat Bakar.....


" Ma, aku mau beli donat" tiba- tiba sikecil masuk kerumah dan berteriak.

" Emangnya ada yg jual donat?"

" Ada ma, tuh di luar"


Aku membuka sedikit tirai jendela, mencoba melihat keluar, kulihat ada seorang lelaki berdiri di halaman rumahku. Kedua tangan nya menenteng tas plastik merah besar berisikan beberapa kotak donat.

" Mana uangnya ma, orangnya nungguin tuh"

Aku menyerahkan selembar 10 ribuan padanya. Ia pun segera berlari ke depan, menemui bapak-bapak penjual donat.

" Harganya lima ribuan ma, jadi aku beli dua" si kecil menyerahkan 2 buah kotak berisi donat padaku.

Kulihat dari jendela, lelaki itu sudah pergi berlalu.

Kubuka kedua kotak itu, subhanallah...isinya bukan donat seperti apa yang aku bayangkan.

Memang tak wajar rasanya ada yang menjual 4 biji donat seharga lima ribu rupiah saja.


" Kok isinya begini ma?" Anakku merasakan kekecewaan yang sama. Setelah melihat isinya.

" Emang tadi orangnya bilang jualan apa dek?"

"Donat bakar , ma"

Iya, donat yang ia sebut sebagai donat bakar adalah roti yang dibuat asal-asalan. Bentuknya bulat pipih, rasanya tawar, sepertinya dipanggang di atas teflon, karena bagian bawah gosong tapi bagian atas masih berwarna putih pucat, di atasnya dihias margarin yang diberi pewarna makanan kemudian ia semprotkan berbentuk zig-zag. Aku yakin itu bukan buttercream karena rasanya asin sekali.

Aku mencoba menggigitnya, yang terasa dilidahku adalah rasa tengik dan apek, seperti terbuat dari tepung yang sudah berkurang kualitasnya. Aroma sedikit asam dari raginya pun begitu menyengat.

"Jangan dimakan dek, rasanya sudah gak enak"

Anakku meletakkan kembali kue yang ia pegang.

Ke esokan harinya di jam yang sama, si bapak datang lagi menawarkan donatnya.

Aku mendengar teriakan nya. Ia memanggil- manggil dari depan teras.

Setelah memakai jilbab, aku keluar menemuinya.

"Aku beli 2 ya pak" kuserahkan selembar dua puluh ribuan padanya.

Lelaki seusia ayah anakku itu sumringah.

" Waduh bu, gak ada kembalian"

" Gak apa-apa pak, kembalian nya buat bapak aja"

Senyum laki- laki itu terkembang, ia melipat dan memasukkan selembar uang itu ke dalam sakunya.

" Bapak baru jualan donat ya? Saya kok baru lihat?"

" Oh iya bu, saya dulu kerja di konveksi. Karena korona saya di rumahkan"

" Donatnya bikin sendiri pak?"

Ia tersipu mendengar pertanyaanku. Matanya terlihat ragu, beberapa kali ia menggaruk kepalanya. Seolah mengalihkan keresahan nya.

" Istri saya yang buat, maaf kalo rasanya kurang enak bu "

Kali ini ia tertunduk, suaranya bergetar...

" Habisnya saya gak tau mau dagang apa, saya beli tepung yang paling murah, lalu saya suruh istri saya bikin makanan. Tadinya mau bikin donat bu, tapi di rumah gak ada bahan apa-apa selain tepung dan mentega, bahkan minyak sama gula pun gak ada. Jadi adonannya saya panggang di atas wajan"

Aku diam mendengar penjelasan nya. Meski sebenernya perasaanku sedih sekali.

" Gak apa-apa pak, yang penting bapak gak malu berusaha. Semoga lain waktu bisa diperbaiki kualitasnya. Biar laris manis"

" Iya bu, saya minta maaf. Dari kemarin saya keliling gak ada yang beli"

" Tunggu sebentar pak, saya punya sesuatu buat bapak"

Aku masuk kerumah, dan mengambil 2 bungkus tepung terigu, sekantong telur, gula dan minyak goreng. Kulihat masih ada sedikit gula halus dan dua pack ceres. Kubungkus semua itu dalam satu kardus, dan kuberikan padanya.

Kubagikan resep donat andalanku. Berharap besok ia bisa membuat donat dengan lebih baik.

Dengan gemetar si bapak menerima hadiahku, berkali-kali ia mengucapkan terima kasih.

Tiga hari berlalu sejak hari itu, si bapak datang kerumahku. Kudengar suara teriakan nya dari teras rumahku.

Kali ini ia memberiku sebuah kotak, berisi empat buah donat, dengan toping ceres.

"Bu, mohon diterima...donat gratis buat ibu, terima kasih ya bu, alhamdulillah...jualan saya laris hari ini"

Matanya berkaca, ketika bercerita bahwa beberapa hari ini, ia dan istrinya bekerja keras membuat donat yang lebih enak. Hingga akhirnya berhasil dan bisa terjual.

" Masya Allah, alhamdulillah..."

" Terima kasih bu"

" Bersyukur sama Allah pak, Dia yang membuat bapak bertemu dengan saya"

Setelah ia berpamitan, aku mencicipi donat bikinan nya. Alhamdulillah kali ini rasanya enak. Semoga jualan si bapak berkah.


MasyaAllah ya.. Sebenarnya wabah ini ALLAH minta kita berfikir lebih keras lagi, berusaha lebih giat lagi dan beribadah lebih kenceng lagi, terus lah berprasangka baik pada ALLAH jangan banyak mengeluh apa lagi menyerah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Belanja online

AL-An'am di muat di POS DESA&SUNDA URANG

AL-An'am di muat di POS DESA&SUNDA URANG
POS DESA dan Majalah Sunda Urang

Jasa sewa mobil untuk acara

Jasa sewa mobil untuk acara
Dijamin Murah

Cari Toko Bunga Bogor?