banner produk

Jumat, Desember 14, 2012

Ketika Kejujuran jadi mahal(karena jauh dari agama),jadinya seperti ini

Pedagang Bakso Daging Babi Jual Harga Jauh Lebih MurahPedagang Bakso Daging Babi Jual Harga Jauh Lebih Murah

Dalam Al Qur’an, keharusan bersikap jujur dalam berdagang, berniaga dan atau jual beli, sudah diterangkan dengan sangat jelas dan tegas yang antara lain kejujuran tersebu –di beberapa ayat– dihuhungkan dengan pelaksanaan timbangan, sebagaimana firman Allah SWT: ”Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil”. (Q.S Al An’aam(6): 152)
Firman Allah SWT:
”Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan, dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi ini dengan membuat kerusakan.” (Q.S AsySyu’araa(26): 181-183)
“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. ItuIah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Q.S Al lsraa(17): 35)
“Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (Q.S Ar Rahmaan(55): 9) 
Tribunnews.com - Kamis, 13 Desember 2012 20:51 WIB
Share this
TRIBUN JAKARTA/BAHRI KURNIAWAN
 sesungguhnya Allah SWT telah menganjurkan kepada seluruh ummat manusia pada umumnya, dan kepada para pedagang khususnya untuk berlaku jujur dalam menimbang, menakar dan mengukur barang dagangan. Penyimpangan dalam menimbang, menakar dan mengukur yang merupakan wujud kecurangan dalam perdagangan, sekalipun tidak begitu nampak kerugian dan kerusakan yang diakibatkannya pada manusia ketimbang tindak kejahatan yang lehih besar lagi seperti; perampokan, perampasan, pencu rian, korupsi, manipulasi, pemalsuan dan yang lainnya, nyatanya tetap diharamkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Mengapa? Jawabnya adalah; karena kebiasaan melakukan kecurangan menimbang, menakar dan mengukur dalam dunia perdagangan, akan menjadi cikal baka! dari bentuk kejahatan lain yang jauh lebih besar. Sehingga nampak pula bahwa adanya pengharaman serta larangan dari Islam tersebut, merupakan pencerminan dan sikap dan tindakan yang begitu bijak yakni, pencegahan sejak dini dari setiap bentuk kejahatan manusia yang akan merugikan manusia itu sendiri.
 asulullah SAW menegaskan pula, bahwa pedagang yang jujur dalam melaksakan jual beli, di akhirat kelak akan ditempatkan di tempat yang mulia. Suatu ketika akan bersama- sama para Nabi dan para Syahid. Suatu ketika di bawah Arsy, dan ketika lain akan berada di suatu tempat yang tidak terhalang baginya masuk ke dalam surga.
Sabda Rasulullah SAW:
Pedagang yang jujur serta terpercaya (tempatnya) bersama para Nabi, orang-orang yang jujur, dan orang-orang yang mati Syahid pada hari kiamat”. (HR. Bukhari, Hakim, Tirmidzi dan Ibnu Majjah)
“Pedagang yang jujur di bawah Arsy pada hari kiamat”. (HR. Al-Ashbihani)
“Pedagang yang jujur tidak terhalang dari pintu-pintu surga”. (HR. Tirmidzi)
Allah Ta’ala berfirman (dalam hadits Qudsi):
“Aku yang ketiga (bersama) dua orang yang berserikat dalam usaha (dagang) selama yang seorang tidak berkhianat (curang) kepada yang lainnya. Apabila berlaku curang, maka Aku keluar dari mereka.” (HR. Abu Dawud).

Sesama Muslim adalah saudara. Oleh karena itu seseorang tidak boleh menjual barang yang ada cacatnya kepada saudaranya, namun ia tidak menjelaskan cacat tersebut.” (HR. Ahmad dan lbnu Majaah)

“Tidak halal bagi seseorang menjual sesuatu barang dengan tidak menerangkan (cacat) yang ada padanya, dan tidak halal bagi orang yang tahu (cacal) itu, tapi tidak menerangkannya.” (HR. Baihaqie)
“Sebaik-baik orang Mu‘min itu ialah, mudah cara menjualnya, mudah cara membelinya, mudah cara membayarnya dan mudah cara menagihnya.” (HR. Thabarani)
Tempat penggilingan daging di Jalan Damai, Cipete (samping Pasar Cipete), yang digerebek tim gabungan Polda Metro Jaya dan Pemerintah Kotamadya Jakarta Selatan, Rabu (12/12/2012) dini hari. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sebuah tempat penggilingan bakso di kawasan pasar Cipete, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menjual daging sapi seharga Rp 45 ribu per kilonya. Padahal di pasar normalnya harga sapi per kilogram adalah Rp 105 ribu. Alhasil, tempat itu pun diserbu oleh sejumlah besar pedagang bakso keliling di wilayah Cipete Utara.

Sejak awal November lalu harga daging sapi yang merupakan salah satu bahan baku pembuat Bakso memang merangkak naik. Hal tersebut pun menyulitkan para pedagang bakso kelililng, yang kesulitan menaikan harga bakso seporsinya karena takut kehilangan pelanggan.

Suparno (26), salah seorang penjaja bakso di mengatakan, untuk mengakali harga daging yang mahal pedagang pun mengakali komposisi daging dengan mencampur daging sapi dengan daging ayam yang lebih murah, kini harga ayam sekitar Rp 45 ribu perekornya.

Dari satu ekor ayam itu, bisa didapatkan 2 sampai 2,5 kilogram daging ayam, setelah dikuliti dan tulangnya dipisahkan. Daging tersebut pun dicampur dengan daging sapi. Perkilogramnya, daging yang telah dicampur sagu dan bumbu bisa menghasilkan sekitar 200 butir bakso.

"Trik itu sudah umum dilakukan pedagang bakso keliling kalau harga daging sapi mahal, ya kayak sekarang ini," ujarnya.

Mengisi celah tersebut, Nuradi yang memiliki kios penggilingan bakso di kawasan pasar Cipete itu pun menawarkan daging murah pada tukang bakso. Tak ayal lagi hal itu pun membuat sebagian besar pedagang daging sapi ditinggalkan pedagang bakso.

Haji Aswani, salah seorang pedagang daging sapi yang memiliki toko di pasar Cipete pun ditinggalkan pedagang bakso. Hinggak satu setengah bulan belakangan, nyaris tak ada pedagang bakso yang membeli daging dari penjaja daging sapi di Pasar tersebut.

Ditemui Tribun di kediamannya di kawasan Cipete Utara, Rabu (12/12), pengusaha daging sapi itu mengatakan ia sempat mendapatkan informasi dari anak buahnya mengenai tempat penggilingan daging yang menjual daging sapi dengan harga murah.

"Kita kan jadi Curiga, kok daging sapi murah sekali, jangan-jangan itu daging B2 (Babi), soalnya isunya kan lagi marak daging B2 di Jakarta," ujarnya.

Aswani yang juga merupakan Ketua Bidang Eskpor- Impor Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) itu pun menyusun strategi. Pada tanggal 21 November lalu, untuk pertama kali ia menyuruh anak buahnya untuk membeli daging murah tersebut. Namun rencana itu tidak kunjung berhasil, karena sang pemilik selalu mengaku stok daging itu sudah habis.

Hal itu terus dilakukan beberapa kali, namun jawaban yang didapat selalu sama. Akhirnya Aswani pun merubah strategi, ia kemudian meminta tolong kepada pedagang daging ayam di pasar itu untuk membeli daging sapi murah itu sebanyak satu kilogram.

"Saya juga minta tukang ayam jangan mengaku kalau itu daging untuk kita, saya suruh mengaku kalau daging itu untuk dibikin gulai, akhirnya sukses," terangnya.

Pada tanggal 29 November, Aswani akhirnya berhasil melihat langsung daging sapi tersebut. Daging tersebut menurutnya memiliki warna yang lebih cerah dari daging sapi pada umumnya, aromanya pun berbeda. Sepintas ia langsung menyimpulkan bahwa daging tersebut adalah daging sapi.

"Saya sampai membandingkan dengan daging sapi, saya jejerkan, dan memang jelas berbeda," tutur Aswani.

Di hari itu ia kemudian mengundang Kepala Seksi Pengawasan dan Pengendalian Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Selatan, Nurhasan ke tokonya, untuk menyaksikan langsung daging itu. Nurhasan juga sependapat dengan Aswani.

Daging itu kemudian diperiksa di Laboratorium Kesmver Dinas Kelautan dan Pertanian, Pemda DKI yang terletak di kawasan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Pada tanggal 3 Desember, hasil laboratorium menunjukan daging tersebut adalah daging babi.

Setelah itu observasi pun dilakukan oleh Petugas Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Selatan di tempat penggilingan daging itu. Akhirnya dini hari tadi, Nurhasan bersama anak buahnya dan sejumlah petugas Polda Metro Jaya menggerebek tempat penggilingan bakso tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Belanja online

AL-An'am di muat di POS DESA&SUNDA URANG

AL-An'am di muat di POS DESA&SUNDA URANG
POS DESA dan Majalah Sunda Urang

peta lokasi