harga paket aqiqah dan catering dus

harga paket aqiqah dan catering dus

banner produk

Rabu, September 19, 2012

Perintah dan Hukum Berqurban

Perintah dan Hukum Berqurban
Allåh ta’âlâ berfirman,
قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ الْعلَمِينَ
“Katakanlah: Sesungguhnya shålatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allåh, Råbb semesta alam.” (QS. Al-An’aam: 162)
Allåh ta’âlâ juga berfirman,
إِنَّاأَعْطَيْنكَ الْكَوثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan sembelihlah qurban” (QS. Al-Kautsar: 1-2)
Para ulama telah berselisih pendapat mengenai hukum menyembelih qurban. Dan pendapat yang mendekati kebenaran mengenai hukum qurban (Insyâ Allåh) adalah wajib bagi yang memiliki kemampuan untuk berqurban.

Adapun dalil yang menunjukkan wajibnya berqurban bagi yang mampu adalah hadits dari Abu Huråiråh rådhiyallåhu ‘anhu, ia berkata, Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa memiliki kelapangan (kemampuan) kemudian tidak berqurban, maka janganlah dia mendekati tempat shalat Ied kami.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ad-Daruqutni, Al-Hakim, sanadnya hasan, lihat Ahkamul Iedain hal. 26).
Al-Imam Ash-Shån’âni råhimahullåh berkata dalam kitabnya Subulus Salâm mengenai hadits di atas, “Dari hadits di atas diterangkan bahwa Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wasallam melarang untuk mendekati tempat shalat Ied bagi orang yang memiliki kemampuan akan tetapi tidak berqurban. Hal itu menunjukkan bahwasanya dia telah meninggalkan suatu kewajiban yang seakan-akan tidak ada manfaatnya, bertaqårrub kepada Allåh dengan dia meninggalkan kewajiban itu”
Dengan Apa Berqurban?
Dari Jâbir bin ‘Abdillâh rådhiyallåhu ‘anhumâ berkata, Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian menyembelih kecuali musinnah, akan tetapi jika kalian merasa berat hendaklah menyembelih Al-Jazâh” (HR. Muslim 6/72 dan Abu Daud 2797).
Syaikh Al-Albâni råhimahullåh menerangkan:
• Musinnah yaitu jenis unta, sapi dan kambing atau kibas. Umur kambing adalah ketika masuk tahun ketiga, sedangkan unta, masuk tahun keenam.
• Al-Jazâh yaitu kambing atau kibas yang berumur setahun pas menurut pendapat jumhur ulama (Silsilah Ad-Dhå`ifah 1/160).
Termasuk tuntunan Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wasallam yaitu memilih hewan yang selamat dari cacat dan memilih yang terbaik. Beliau melarang menyembelih hewan yang terputus telinganya, terpecah tanduknya, matanya picak (cacat), terputus bagian depan atau belakang telinganya, terbelah atau terkoyak telinganya. Adapun kibas yang dikebiri boleh untuk disembelih. (Ahkamul Iedain hal. 75)
Boleh Berserikat
Satu ekor hewan kurban boleh diniatkan pahalanya untuk dirinya dan keluarganya meskipun dalam jumlah yang banyak.
‘Athå bin Yasar råhimahullåh berkata, Aku bertanya kepada Abu Ayyub Al-Anshåri rådhiyallåhu ‘anhu, “Bagaimana sifat sembelihan di masa Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wasallam?”, Beliau menjawab, “Jika seseorang berqurban seekor kambing, maka untuk dia dan keluarganya. Kemudian mereka makan dan memberi makan dari kurban tersebut.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Malik, Al-Baihaqi dan sanadnya hasan, lihat Ahkamul Iedain hal. 76)
Dari Ibnu ‘Abbas rådhiyallåhu ‘anhumâ berkata, “Kami bersama Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wasallam dalam sebuah perjalanan kemudian tiba hari Ied. Maka kami berserikat tujuh orang pada seekor sapi dan sepuluh orang pada seekor unta.” (HR. At-Tirmidzi dan dishåhihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shåhih Sunan At-Tirmidzi no. 1213)
Waktu Menyembelih Binatang Qurban
Waktu untuk menyembelih binatang qurban adalah setelah selesai shalat ‘Ied. Dalilnya adalah hadits dari Barrå` bin ‘Azib rådhiyallåhu ‘anhu, ia berkata, Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya perkara yang pertama kita mulai pada hari ini adalah kita shalat kemudian menyembelih. Maka barang siapa yang melakukan hal itu, dia telah mendapatkan sunnah kami. Dan barang siapa yang telah menyembelih (sebelum shalat), maka sesungguhnya sembelihan itu adalah daging yang diperuntukkan bagi keluarganya, bukan termasuk hewan kurban sedikitpun.” (HR. Muslim no. 1961).
Diperbolehkan untuk mengakhirkan penyembelihan, yaitu menyembelih pada hari-hari tasyriq. Sebagaimana diterangkan dalam hadits dari Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda, “Setiap hari tasyriq ada sembelihan.” (HR. Ahmad 4/8 dari Jubair bin Muthim rådhiyallåhu ‘anhu, dan dihasankan oleh Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid dalam Ahkamul iedain)
Tempat Menyembelih
Dalam rangka menampakkan syiar Islam dan kaum muslimin, disunnahkan menyembelih di lapangan tempat shalat Ied. Dalilnya adalah atsar dari Ibnu Umar rådhiyallåhu ‘anhumâ dari Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau menyembelih (kibas dan unta) dilapangan Ied. (HR. Bukhåri no. 5552 dengan Fathul Bâri)
Cara Menyembelih
Menyembelih dengan niat ikhlas kepada Allåh ta’âlâ. Disunnahkan bagi yang mampu untuk menyembelih agar menyembelih sendiri binatang qurbannya dengan mengucapkan,

Dengan nama Allâh dan Allâh Maha Besar (berdasarkan hadits riwayat Imam Al-Bukhåri)
Menyembelih binatang qurban dengan pisau yang tajam, membaringkan sembelihan pada sisi kirinya karena yang demikian mudah bagi si penyembelih memegang pisau dengan tangan kanannya, dan menahan lehernya dengan tangan kiri. Hendaknya binatang yang akan disembelih dijauhkan dari binatang qurban lainnya.
Boleh juga mewakilkan penyembelihan kepada orang lain yang mampu melakukannya semisal panitia qurban atau yang semacamnya.
Bagi Yang Tidak Mampu Berqurban
Adapun bagi yang tidak mampu meyembelih maka hendaknya dia melihat dan hadir saat penyembelihan hewan kurban dan mereka akan mendapatkan pahala seperti halnya orang yang berqurban dari umat Muhammad shållallåhu ‘alaihi wasallam. Hal ini diterangkan dalam sebuah riwayat bahwa Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wasallam telah berqurban untuk umatnya yang tidak mampu. Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bismillâh Wallåhu Akbar, ini (qurban) dariku dan dari umatku yang tidak menyembelih.” (HR. Abu Dawud dan dishåhihkan Syaikh Al-Albani dalam Shåhih Abu Dawud no. 2436).
Pembagian Daging Binatang Qurban
Daging qurban dibagi menjadi tiga bagian: sepertiga untuk makanan bagi yang berqurban dan disimpan, sepertiga untuk dibagikan kepada sanak kerabat, dan sepertiga untuk disedekahkan kepada orang fakir dan miskin.
Allåh berfirman,
فَكُلُواْ مِنْهَا وَأَطْعِمُواْالْبَائِسَ الْفَقِيرَ
Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir (QS. Al-Hajj: 28)
فَكُلُواْ مِنْهَا وَأَطْعِمُواْالْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَ
Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. (QS. Al-Hajj: 36)
Seluruh daging dan bagian-bagian binatang qurban lainnya dibagikan, dan tidak ada yang dijual.
Larangan Bagi Yang Hendak Berqurban
Jika seseorang hendak berqurban dan telah masuk bulan Dzulhijjah, maka ia tidak boleh mencabut atau memotong rambut atau kukunya hingga dia menyembelih binatang qurbannya, berdasarkan hadits Ummu Salamah rådhiyallåhu ‘anhâ, bahwa Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila kalian melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian hendak menyembelih, maka hendaknya dia menahan (yakni tidak memotong) rambut dan kukunya.” (HR. Muslim No. 1977)
Imam Nawawi råhimahullåh berkata, “Maksud larangan tersebut adalah dilarang memotong kuku dengan gunting dan semacamnya, memotong rambut; baik gundul, memendekkan rambut, mencabutnya, membakarnya atau selain itu. Dan termasuk dalam hal ini, memotong bulu ketiak, kumis, kemaluan dan bulu lainnya yang ada di badan” (Syarh Muslim 13/138)
Dari keterangan di atas maka larangan tersebut menunjukkan haram. Demikian pendapat Sa’id bin Musayyib, Råbi’ah, Ahmad, Ishaq, Dawud dan sebagian Madzhab Syafi’iyah. Dan hal itu dikuatkan oleh Imam Asy-Syaukani dalam Nailul Authår juz 5 hal. 112 dan Syaikh ‘Ali Hasan dalam Ahkamul iedain hal. 74)
Adapun jika dia melakukannya karena lupa atau karena tidak tahu atau rambutnya rontok tanpa sengaja, maka tidak ada dosa baginya. Begitu juga jika dia melakukannya karena ada keperluan seperti kukunya pecah dan menyakitkannya, maka tidak apa-apa baginya memotongnya untuk menghilangkan sesuatu yang mengganggunya.
Dibolehkan bagi keluarga yang berkurban untuk mencabut (rambut, kuku) pada hari-hari sepuluh tersebut.
Kesalahan-Kesalahan Yang Lazim Terjadi
1. Menjual kulit, tanduk, dan bagian tubuh binatang Qurban
Pengelola penyembelihan binatang qurban tidak boleh gegabah dan serampangan mengambil kesimpulan hukum tentang kulit. Misalnya mengambil inisiatif menjual kulit yang hasilnya untuk kepentingan masjid atau diluar lingkup ketentuan yang diperbolehkan. Meskipun mereka beralasan bahwa hasil penjualannya akan diinfakkan, maka tetap saja tidak diperbolehkan dalam agama. Yang diperintahkan oleh Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wasallam adalah membagikan seluruh bagian dari binatang qurban yang bisa dimanfaatkan.
Nabi shållallåhu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya), “Barang siapa yang menjual kulit hewan qurbannya maka qurbannya tidak diterima.” (HR. Hakim dan Baihaqi. Hadis ini dishåhihkan oleh syaikh Al Albani)
‘Ali bin Abi Thålib rådhiyallåhu ‘anhu berkata, “Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wasallam memerintahkan aku untuk menyembelih hewan qurbannya dan membagi-bagi dagingnya, kulitnya, dan alat-alat untuk melindungi tubuhnya, dan tidak memberi tukang potong sedikitpun dari qurban tersebut.” (HR. Bukhari-Muslim).
Nabi shållallåhu ‘alaihi wasallam juga bersabda (artinya), “Janganlah kalian jual daging hewan hadyu (hewan yang dibawa oleh orang yang haji ke Mekkah untuk disembelih di tanah haram), juga jangan dijual daging qurban. Makanlah dan sedekahkanlah serta pergunakan kulitnya.” (HR. Ahmad. Al Haitami berkata: hadis ini mursal shahih sanad). Hadits ini dengan tegas berisikan larangan menjual bagian hewan qurban.
Ketika Imam Ahmad di tanya tentang orang yang menjual daging qurban, ia terperanjat, seraya berkata, “Subhânallåh, bagaimana dia berani menjualnya padahal hewan tersebut telah ia persembahkan untuk Allåh tabâråka wa ta’âlâ?”.
Kulit, tanduk dan bagian tubuh lainnya hendaknya dibagikan atau boleh juga dihadiahkan kepada orang-orang yang bisa memanfaatkannya dengan benar.
Larangan menjual bagian dari binatang qurban berlaku untuk orang yang berqurban dan orang-orang yang diamanahi sebagai pengelola binatang qurban. Adapun bagi orang yang menerima sedekah daging binatang qurban dan orang-orang yang dihadiahi daging qurban, maka tidak terlarang bagi mereka untuk menjual daging binatang qurban tersebut.
2. Mengupah tukang jagal dengan daging Qurban
Demikian juga dalam hal mengupah tukang jagal, maka pengelola penyembelihan binatang qurban juga tidak boleh gegabah dan serampangan dalam masalah ini, yakni mengupah tukang jagal dengan daging qurban. Mengupah tukang jagal dengan daging qurban adalah terlarang.
Ali bin Abi Thålib berkata, “Nabi memerintahkanku untuk menyembelih unta hewan qurban miliknya, dan Nabi memerintahkan agar aku tidak memberi apapun kepada tukang potong sebagai upah pemotongan” (HR. Bukhåri no. 1716)
Lalu bagaimana caranya kita mengupah tukang jagal atas jerih payahnya? Kita bisa menyisihkan sebagian harta kita (uang) sebagai upah atas jasa dan jerih payah tukang jagal. Nabi shållallåhu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya), “Kami akan mengupahnya dari harta kami sendiri.” (HR. Muslim no. 1317)
Dengan mengikuti berbagai panduan berqurban yang benar dan sesuai dengan apa yang disyari’atkan oleh Allåh dan Råsul-Nya shållallåhu ‘alaihi wasallam, kita berharap ibadah qurban kita diterima oleh Allåh dan diberikan keberkahan di dalamnya. Allåhua’lam bish-shåwâb.
Dikompilasikan dari tulisan Tuntunan dalam Iedul Qurban, tulisan Ustadz Azhari Asri, sumber Majalah Salafy edisi XV, “Keutamaan sepuluh hari (pertama) Dzulhijjah & Hukum berkurban dan ‘Iedhul Adha yang berbarakah (terjemah فضل عشر ذي الحجة أحكام الأضحية وعيد الأضحى المبارك)”,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Belanja online

AL-An'am di muat di POS DESA&SUNDA URANG

AL-An'am di muat di POS DESA&SUNDA URANG
POS DESA dan Majalah Sunda Urang

peta lokasi