banner produk

Selasa, Agustus 14, 2012

Jangan Tergantung Impor, Benahi pelaksanaan dann pengawasannya


(SH/Junaidi Hanafiah)

Ya ALLOH SWT, berkahi dan makmurkan kami .sehingga kami dapat memenuhi kebutuhan daging untuk Ramadhan ini ,

JAKARTA – Tahun ini boleh jadi kaum muslim sangat dirugikan dengan gegap gempita kebijakan perdagangan sapi nasional. Pemerintah akhirnya hanya memutuskan menambah kuota impor bagi para penjual bakso (kelompok industri pengolahan-red) sebesar 7.000 ton.

Hal ini diumumkan Menteri Pertanian (Mentan) Suswono pada Kamis (19/7). Dampaknya, pasar-pasar tidak mendapatkan pasokan tambahan dari impor. Alhasil, impor jeroan dengan nomor HS 0206.22.00.00 akan masuk memboncengi tambahan kuota impor daging bagi kelompok industri ini. Praktis nantinya yang akan masuk 50 persen daging beku dan 50 persen jeroan beku.
Seluruh suplai daging ke masyarakat hanya berasal dari pemotongan sapi di dalam negeri. Akibatnya, kata Ketua Aspidi Thomas Sembiring, kepada SH, Minggu (22/7), berdasarkan pemantauan Aspidi, harga daging sapi tertinggi pada pekan lalu mencapai Rp 90.000 per kilogram (kg) di DKI, dibandingkan harga daging sapi tertinggi tahun lalu di DKI yang hanya Rp 70.000 per kg.
Harga daging sapi di Medan dan Jawa Barat Rp 80.000 per kg. Sementara itu, di sentra produksi sapi Jawa Timur Rp 66.000 per kg.
Namun, ironisnya, Ditjen Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan memantau harga rata-rata nasional daging sapi pekan lalu Rp 76.957 per kg, dengan memperhitungkan kenaikan harga yang terjadi hanya 2,05 persen dibandingkan harga pekan sebelumnya.
Pernyataan ini dikemukakan Gunaryo, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, saat mendampingi Menteri Perdagangan pada inspeksi ke Pasar Kopro, Tomang Barat, Jumat (20/7).
Thomas mengaku kuat dilarang melakukan operasi pasar daging sapi di sesi Ramadan tahun ini. Padahal, pada ramadan tahun-tahun sebelumnya, pihaknya selalu diminta membantu pemerintah melakukan operasi pasar daging murah dengan daging beku impor.
Tekanan tidak cukup hanya itu. Ia yang selama ini mengetuai para pengimpor daging beku juga diminta menunjukkan bukti kontrak pasok dari hotel dan restoran untuk bisa mendapatkan kuota impor daging pada semester II/2012.
Ini artinya daging impor pada semester II/2012 hanya boleh dijual ke pasar hotel dan restoran, dan tidak boleh dijual ke pasar umum untuk konsumsi masyarakat. Demikian inilah jadinya bunyi dari jargon swasembada daging 2012, bahwa 82 persen kebutuhan daging di Indonesia, baik untuk industri, masyarakat, maupun hotel-restoran dipasok dari pemotongan sapi di dalam negeri.
Ramadan yang merupakan peak season bagi konsumsi daging di negeri yang 92 persen penduduknya muslim ini, seolah diabaikan begitu saja. Janji penambahan kuota impor bagi sapi hidup untuk digemukkan dan dipotong di Indonesia, ternyata tidak diberikan.
Ketua Asosiasi Pengusaha Feedloader (Penggemukan Sapi) Indonesia, Joni Liano kepada SH mengatakan, pernah dijanjikan penambahan kuota impor sapi hidup ini dengan catatan menunggu hasil hitung ulang kebutuhan daging sapi bertajuk “survei karkas” yang dikomandoi IPB, untuk hitung ulang supply demand.
Survei karkas ini mengambil angka 484.000 ton sebagai angka acuan kebutuhan daging 2011. Namun, saat Ramadan sudah tiba, survei karkas juga belum kelar. Akibatnya, tidak ada tambahan kuota impor sapi bakalan di 2012. Ini bisa dibuktikan dari pernyataan Mentan Suswono pada Kamis.
Mentan Suswono mengumumkan pada Kamis (19/7) pemerintah akan memberikan tambahan kuota impor daging sapi hanya untuk industri pengolahan daging sebanyak 7.000 ton hingga akhir tahun ini.
Pemberian tambahan kuota impor tersebut untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan daging dengan jenis CL 85. Penambahan kuota impor tersebut sudah diputuskan dalam rapat koordinasi di Menko Perekonomian.
Dasar kebijakan ini, kata Suswono, adalah rekomendasi Kementerian Perindustrian agar impor daging jenis CL 85 sebanyak 7.000 ton ditujukan bagi industri pengolahan. Penambahan impor daging itu hanya untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan, bukan untuk dijual di pasar. Apalagi, pasokan daging jenis CL 85 tidak dapat dipenuhi di dalam negeri.
Meskipun demikian, Mentan menegaskan, pihaknya akan mengawasi agar daging impor untuk industri tersebut dipastikan tidak masuk ke pasar eceran. "Jika (daging impor) ini sampai merembes ke pasaran, kami akan memberikan sanksi," katanya.
Menurut data Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), kebutuhan daging sapi beku bagi industri pengolahan daging mencapai 10.500–11.000 ton per semester. Namun, pada paruh kedua tahun ini, kuota impor daging sapi beku hanya tersisa 8.300 ton.
Tahun ini pemerintah hanya menetapkan kuota impor daging sapi beku sebanyak 34.000 ton yang dibagi menjadi 20.400 ton pada semester I/2012 dan 13.600 ton pada semester II/2012. Namun, jatah semester II digeser ke semester I sebanyak 5.300 ton, sehingga sisa kuota semester II hanya 8.300 ton.
(Sinar Harapan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Belanja online

AL-An'am di muat di POS DESA&SUNDA URANG

AL-An'am di muat di POS DESA&SUNDA URANG
POS DESA dan Majalah Sunda Urang

peta lokasi