Selasa, Februari 28, 2012

MEMBUAT KOMPOS KOTORAN SAPI SAMBIL BUDIDAYA CACING TANAH



 

Segala puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah, Rabb sekalian alam ini. Kalau kita mau memperhatikan pesan Allah dalam kitab Al-Quran, maka kita seharusnya terpacu untuk belajar segala hal tentang alam ini dan pemanfaatannya dalam kehidupan ini sesuai dengan tuntunanNYA. Kalau kita sadar Allah menciptakan segala sesuatu tidak sia-sia, hanya saja karena kita yang belum tahu atau tidak mau tahu, sehingga banyak hal yang akhirnya kita sia-siakan. Semuanya sebenarnya bukan sesuatu yang susah, ilmunya juga ilmu sederhana, tidak memerlukan teknologi tinggi, hanya bermodalkan kemauan insyaallah kita bisa mempelajarinya dan mengamalkannya.
Salah satunya adalah manfaat cacing tanah, yang saat ini dikenal dengan sebutan cacing tiger, red worm, dll yang mestinya dimasa lampau adalah hewan ciptaan Allah yang tugasnya adalah mengatur keseimbangan tanah. Tetapi karena dasar manusia ini tidak percaya akan kedigdayaan hewan nan lemah lembut ini kita terjerumus dengan omongan manusia yang dianggap pintar dengan cara menggunakan pupuk buatan untuk menyuburkan tanah ini. Memang hasilnya saat itu menakjubkan, karena hasilnya lebih baik dari pada kalau digemburkan oleh cacing itu saja. Tetapi apa yang terjadi setelah berlangsung puluhan tahun, tanah kita menjadi miskin hara, kering dan strukturnya rusak. Akibatnya rentan terhadap penyakit, keasaman tanah menjadi tinggi, tidak netrak lagi. Sehingga kita memerlukan pelawan hama yang mematikan manusia juga. Mungkinkan ini salah satu program mematikan manusia yang dianggap tidak produktif. Subhanallah, wallahualam.
Di era sesudah krismon, bangsa kita yang dilanda latah ini, dibanjiri dengan produk-produk baru yang dihembuskan sebagian orang, misalnya kebutuhan jangkrik untuk selain pakan burung, misalnya untuk kosmetik, kebutuhan cacing untuk kebutuhan pakan unggas dan ikan. Akibatnya terjadi booming, dan seperti biasa karena dasarnya latah maka terjadi over produksi, sehingga harga jatuh. Setelah harga jatuh banyak orang yang mencoba usaha cacing, jangkrik dll kapok. Hanya sebagian orang yang dengan ketekunannya bertahan dan ternyata meraih keberhasilan dari usaha ini.
Misalnya dari ternak cacing, menghasilkan hasil sampingan yang bisa jadi hasil utama juga. Yaitu menghasilkan kascing sebutan kari kompos hasil dari cacing. Juga obat tradisional untuk penurun panas dari penyakit typhus, dan penyakit lainnya.
Kemarin, 22 Desember 2010, saya silaturahmi ke salah satu pengusaha cacing di daerah Cibodas, Maribaya, Lembang. Saya ketemu dengan p Warno, yang kalau dari suaranya ditelpon sepertinya sudah di atas saya, prakiraan saya sudah berusia 60 tahunan, eh begitu ketemu rupanya baru 50 tahunan. Beliau sudah menjalani usaha ini sejak 1998, dan bertahan sampai sekarang.
Dari silaturahmi yang sebentar ini sekitar 3 jam di kandang cacing beliau, saya sempat belajar kiat cara membuat kompos dengan mesin cacing ini. Saya beli 1 kg cacing dan 200 kg kascing untuk ternak lele organic di rumah.
Bahan yang beliau gunakan hanyalah kotoran sapi, yang bertebaran di daerah Lembang. Saya setuju dengan motto beliau ini adalah BISNIS KOTOR YANG HALAL. Artinya usaha ini berkubang di atas kotoran ternak yang diolah menjadi pupuk dengan mesin cacing sebagai pabriknya dan menghasilkan kompos yang digunakan untuk pupuk organic tanaman apapun.
Cara mengolahnya juga sederhana :
Kotoran Sapi sebagai bahan utama. Kotoran sapi bisa kotoran yang baru maupun yang sudah dingin. Yang masih baru biasanya masih lembek dan yang sudah dingin biasanya sudah mulai berkurang kadar airnya.
Bisa juga digunakan kotoran kambing, kelinci, ayam, limbah sayuran, sampah organic lainnya.
Siapkan wadah untuk memproses kotoran sapi menjadi kompos. Saya gunakan kotak bekas telur yang ada di rumah. Kotak dialasi dengan karung plastic bekas terigu. Alas ini untuk menahan kotoran jangan menetes kelantai. Bisa juga menggunakan kardus bekas.
Masukkan kotoran sapi ke dalam kotak. Ratakan dengan cethok supaya tidak ada gumpalan dan rongga kotoran. Apalagi kotoran sapi yang digunakan sudah dingin, kotoran ternak qurban kemarin. Kotorannya mulai menggumpal dan mengeras. Sehingga perlu dihancurkan dan diratakan dalam kotak.
Siapkan air secukupnya. Air ini gunanya untuk menjaga kelembaban kotoran sehingga cacing betah hidup di dalamnya. Cacing senangnya berada di lingkungan yang gelap dan lembab.
Apalagi kotoran yang digunakan di sini sudah mulai berkurang kadar airnya, sehingga perlu ditambahkan air. Banyaknya by feeling saja, yang penting jangan terlalu banyak, cukup basah saja.
Cara membasahi kotoran adalah dengan dikepretin pakai tangan saja, jangan diguyur. Lalu diratakan lagi dengan cethok, supaya kotorannya lebih gembur dan mengandung air secara merata sampai bawah. Mungkin sebaiknya supaya lebih merata airnya bisa dicampur dulu dengan kotoran pada timba plastic, lalu diaduk dengan kelembaban tertentu. Butuh tenaga ekstra untuk kotoran yang sudah dingin.
Jika sudah cukup basah dan merata sudahi penambahan airnya. Artinya kotoran sudah siap untuk ditabur cacing.
Siapkan cacing yang akan ditebar. Saya beli hanya 1 kg cacing, yang dalam hal ini sudah dicampur dengan kascing supaya cacingnya tidak lari dari wadahnya. Prosedur bakunya demikian dari penjualnya.
Dengan cacing 1 kg ini, dengan aturan main setiap 24 jam cacing ini memproses/makan sebanyak beratnya (dalam hal ini 1kg) maka kotoran yang diprakirakan beratnya 15 kg akan jadi kompos selama 15 hari lagi, sejak hari ini (23 Desember 2010)
Beginilah gambaran populasi dari cacing tanah berwarna merah ini, biasa disebut dengan red worm atau Lumbricus Rebellus, yang natural habitatnya di tanah dan biasanya digunakan untuk mengolah kotoran hewan menjadi kompos.
Kondisi seperti ini terjadi setelah lapisan teratas kascing disisihkan. Biasanya bagian atasnya tertutup kascing dan cacing bersembunyi di bawahnya, seolah-olah tidak bercacing.
Cacing dan kascing bawaan yang sudah ditebarkan di atas kotoran hewan. Dalam waktu yang tidak lama cacing-cacing ini langsung masuk ke dalam kotoran untuk memulai kehidupannya di tempat yang baru. Semoga Allah memberkahi pekerjaan ini.
Supaya tidak terlalu terang, karena lokasi mesin produksi vermikompos ini terlalu terang, meski tidak kena sinar matahari lansung, maka ditutupi dengan kardus bekas. Supaya cacingnya semakin produktif dan senang di kandang barunya.
Demikianlah cara mengolah kotoran sapi dan sebangsanya, tetapi disini saya gunakan bahan yang ada, kotoran sapi, gratisan, dengan memanfaatkan cacing tanah jenis red worm atau nama latinnya Lumbricus Rebellus.
Saya belajar langsung dari pak Haji Warno pengusaha kascing dari kampung Babakan Gentong, Cibodas, Lembang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Belanja online

AL-An'am di muat di POS DESA&SUNDA URANG

AL-An'am di muat di POS DESA&SUNDA URANG
POS DESA dan Majalah Sunda Urang

peta lokasi