banner produk

Minggu, Februari 19, 2012

Kemana “Anak Petani” ?

Kemana “Anak Petani” ?

Banyak ironi yang terjadi di tengah-tengah masyarakat petani Indonesia. Namun hal ini diperlukan sebagai refleksi bagi upaya awal memajukan dan mengembangkan dunia pertanian kita.
Semua petani yang dikesankan sebagai ‘masyarakat marjinal’ selalu mengharapkan anak-anaknya lebih baik dari orang-tuanya yang bernasib sebagai petani yang dikesankan marjinal itu. Petani akan bekerja
membanting tulang dengan kegiatan pertaniannya untuk menyekolahkan anaknya agar tidak menjadi petani dan bernasib seperti nasib orang tuanya yang petani. Sampai-sampai sawah atau ladang dijual demi menyekolahkan anaknya dan mengejar cita-cita dan harapan untuk anaknya itu.  Pun, hal yang sama terjadi di keluarga Nelayan yang tersebar di pesisir pantai Nusantara ini.
Maka, tidak sedikit “Anak Petani” yang mendapatkan anugerah Ilahi berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi sehingga menjadi terdidik dan bahkan mendapatkan berbagai gelar sarjana.  Bahkan tidak sedikit pula yang mendapatkan gelar Sarjana Pertanian dengan spesialisasi keilmuan yang beragam mulai dari teknik Pembibitan, teknik Tanah dan Air Pertanian, Sarana dan Prasarana serta Bangunan Pertanian, Budidaya Pertanian, Teknologi Pasca Panen, Sistem Informasi dan Manajemen Pertanian, Industri Pertanian, serta Indutsri Pengolahan Pangan hasil pertanian.  Hal yang sama, tidak sedikit pula “Anak Nelayan” yang berpendidikan bahkan mendapatkan gelar sarjana bidang Perikanan dengan segala spesialisasinya. Tetapi, “Pertanian dan Perikanan” kita belum juga maju berkembang sebagaimana petani dan nelayan di Negara lain yang telah lebih maju dan berkembang.  Kemanakah para terdidik dan Sarjana “Anak Petani” dan “Anak Nelayan” itu ?

Memang, maju dan berkembangnya bidang pertanian dan perikanan tidak lepas dari peran Pemerintah, dalam hal ini lebih spesifik kepada tanggung-jawab “Kementerian Pertanian” ataupun “Kementrian Perikanan”.  Namun, peran aktif seluruh komponen masyarakat dalam memajukan dan mengembangkan pertanian dan perikanan sebagai basis terbesar dari kehidupan masyarakat Indonesia umumnya juga merupakan faktor yang sangat dominan. Termasuk peran “Anak Petani” ataupun “Anak Nelayan” adalah sangat dinantikan.  Sangat tidak elok jika Institut Pertanian Bogor (IPB) sebagai salah satu simbol harapan bagi kemajuan Pertanian dan Perikanan di Indonesia kemudian diplesetkan oleh sementara orang menjadi “Institut Pleksibel Banget” akibat lulusannya menyeberang ke lain bidang semisal perbankan, otomotif serta industri strategis lainnya selain yang erat kaitannya dengan industri pertanian. Juga sangat tidak sedap jika ada seorang sarjana Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) yang berargumentasi bahwa pendidikan Indonesia adalah pendidikan gagal.  Dikatakan gagal karena setiap “anak petani” berhasil meraih pendidikan tinggi, maka ia pergi ke profesi lain dan malu dengan profesi orang tuanya sebagai petani.  Juga, ketika “anak nelayan” sukses sampai pendidikan tinggi, maka ia menekuni profesi yang berbeda dan enggan dengan profesi orang tuanya sebagai nelayan.  Sekali lagi peran “Anak Petani” dan “Anak Nelayan” itu sangat dinantikan untuk kemajuan dan perkembangan sektor vital Indoneseia ini, pertanian dan perikanan.

Mungkinkah Pertanian Kita Bisa Maju seperti Thailand?

Pertanyaan di atas muncul di Internet tepatnya di alamat tautan link situs pada footnotes 1. Dalam link tersebut, sebaliknya ada pertanyaan balik dari komentator “Mengapa pembandingnya harus dengan Thailand dan mengapa harus selalu Pemerintah yang harus disalahkan ?”  Komentator ini melanjutkan bahwa bukanlah untuk membela pemerintah yang yang memang sedikit banyak berperan memperlambat gerak pertanian indonesia, tetapi ada pepatah mengatakan :

“ Jangan kau tanyakan apa yang negara telah lakukan untukmu … “
“ Tapi tanyakanlah apa yang telah engkau berikan untuk negaramu.”

Maka, tentu bukan saja “Anak Petani” - yang kebutuhan pokok pangannya adalah dipenuhi oleh hasil jerih payah kerja para petani - yang punya tanggung-jawab pada kemajuan pertanian dan perikanan Indonesia.  Tentu, apatah lagi para “Anak Petani” - yang kini bekerja bukan di bidang pertanian atau perikanan secara langsung –, maka mereka pun memiliki tangggung-jawab yang besar. Tentu saja, “Anak Petani” yang “Sarjana Pertanian”, maka mereka sesungguhnya lebih memiliki tangggung-jawab yang lebih besar lagi.

Dengan menimbang tanggung-jawab tersebut dan mulai merasa memiliki tanggung-jawab kemudian mulai bergerak action melakukan peran sekecil apapun, maka pertanian kita akan bisa maju seperti Thailand bahkan bisa lebih maju lagi.

“Anak Petani”, Haruskah Bertani ?

Ini hanyalah merupakan “Pilihan Peran” yang bisa kita pilih untuk dilakukan.  Jawabannya bisa banyak alternative pilihannya.  Tentu saja “Tidak semua harus bertani” dalam arti semua terjun turun ke lahan pertanian atau melaut untuk menangkap ikan kemudian meninggalkan profesi strategis lainnya.  Atau bisa juga “Ya” apabila profesi orang tua kita yang “Petani” - yang telah turut berperan mengantarkan kita pada beragam profesi kita kini – itu harus mundur terus-menerus dan tidak mengalami kemajuan yang signifikan.  Namun sebagai sebuah pilihan, “Ya” itu pun tentu sangat beragam level atau kadar perannya dalam hal bertani. Memajukan profesi “Bertani” adalah menuntut multiperan dan bisa dilakukan oleh banyak orang dengan cara yang berbeda-besa.  Sebagaimana produk hasil kegiatan pertanian dan perikanan yang masuk berperan jauh sebagai bahan baku dalam banyak kegiatan industry modern.
How is to Begin ?

Ada satu hal yang semua kita harus menghindarkan diri agar kita semua bisa memulai. Mind-Set merupakan penggerak atau penghalang utama seseorang untuk berperan dalam memajukan pertanian.  Mind-Set yang paling merusak untuk tujuan ini adalah jika “Anak Petani” yang sukses dari hasil usaha orang-tuanya bertani kemudian sama sekali tidak mau bertani hanya karena profesi petani dipandangnya sebagai profesi  rakyat kecil, rakyat marginal dan rakyat kurang berpendidikan serta sebagai profesi yang kotor oleh  lumpur dan bau oleh kotoran sapi atau ayam.  Jika mind-set ini memenuhi fikiran “Anak Petani” atau siapa pun, maka ia tidak akan pernah bisa memulai perannya.

Siapakah “Anak Petani” ?

Oleh sebab Indonesia kita ini terkenal sebagai negara agraris sejak zaman penjajahan Belanda dahulu, maka tentulah sangat mungkin jika anak bangsa Indonesia kini 99.9% adalah keturunan petani.  Kalau bukanlah ia “Anak Petani” secara langsung, maka ia akan mendapatkan posisinya sebagai “Cucu Petani” atau “Cicit Petani”.
Konsekuensinya, maka kita semua sebagai anak bangsa sebenarnya memiliki tanggung jawab bersama untuk memikirkan dan memilih peran kita masing-masing guna memajukan dan mengembangkan pertanian dan perikanan kita.

Antara “Anak Petani” dan “Buruh”

Di tengah kemiskinan mayoritas petani, peternak atau nelayan serta belum majunya industri pertanian kita, maka “Anak Petani” yang berpendidikan menengah atas sampai perguruan tinggi lebih cenderung kemudian masuk ke dalam dunia industri sebagai pekerja alias buruh pabrik.  Adapun generasi petani pengganti orang tua mereka para petani secara umum tinggallah tersisa “Anak Petani” yang cenderung tidak bisa melanjutkan ke pendidikan menengah atas alias “Tamatan SD” atau “SMP Drop-Out” alias mereka yang tidak bisa bersaing di bursa dunia kerja sebagai buruh pabrik.  Namun demikian, mereka semua tetaplah keluarga yang satu, yaitu keluarga “Anak Petani”.

Dengan demikian maka, “Anak Petani” yang “Buruh Pabrik” sebenarnya juga merupakan tumpuan harapan yang besar dan significant untuk menjadi agent atau didorong menjadi agent bagi memajukan dan mengembangkan sektor pertanian.  Paling tidak ada beberapa alasan yang bisa menjadi  argumentasi bagi premis ini :

  1. Secara tradisi – jika belum terdistorsi – buruh pabrik memiliki kedekatan dengan profesi orang tua mereka sebagai petani.
  2. Pendapatan mereka sebagai buruh pabrik, sebenarnya belumlah significant untuk mencukupi kebutuhan sekunder namun mendesak bagi keluarga mereka seperti untuk biaya pendidikan tinggi anak-anak mereka, sehingga dorongan ke arah pemanfaatan sektor pertanian untuk menambah income mereka adalah sangat memungkinkan.
Namun, juga ada kendala bagi premis ini adalah :

  1. Mengingat sektor industri pertanian belum mampu menyerap tenaga pekerja secara massive atau belum bisa memberikan ruang yang cukup besar bagi akses pengembangan sector ini dibandingkan dengan jalan pintas menjadi buruh pabrik, maka daya tarik sector ini belum bisa memotivasi minat buruh untuk meninggalkan profesinya sebagai buruh pabrik dan 100% masuk ke dalam industry pertanian melanjutkan tradisi orang tua dan keluarga  mereka.
  2. Pendapatan yang secara umum pas-pasan sebagai buruh pabrik, belum member ruang gerak yang cukup bagi para “Anak Petani“ yang “Buruh” untuk mulai memperhatikan pemanfataan sektor pertanian ini.
Jalan Tengah untuk “Buruh Anak Petani”

Organisasi buruh adalah salah satu jalan itu.  Namun hal ini tidak akan terjadi jika para aktifis organisasi buruh tidak aktif memberikan pembelajaran kepada buruh dan belum cerdas atau kurang kreatif mengidentifikasi faktor kekuatan (strength) dari organisasi buruh guna menangkap peluang bagi upaya peningkatan income buruh melalui pemanfaatan sektor pertanian tanpa harus meninggalkan profesinya sebagai buruh terlebih dahulu.

Guna meretas “jalan tengah” ini, maka sangat perlu dan bahkan mendesak bagi para aktifis buruh khususnya “Buruh Anak Petani” untuk duduk bersama dengan sesama aktifis buruh lintas PUK kemudian berdiskusi mencari jalan ke arah terealisasinya pemanfaatan sektor pertanian paling tidak untuk 2 tujuan sekaligus :

  1. Turut mengambil peran aktif guna memajukan dan mengembangkan pembangunan sector pertanian.
  2. Memanfaatkan kegiatan sektor pertanian untuk menjadikannya sebagai sumber income tambahan bagi “buruh pabrik”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Belanja online

AL-An'am di muat di POS DESA&SUNDA URANG

AL-An'am di muat di POS DESA&SUNDA URANG
POS DESA dan Majalah Sunda Urang

peta lokasi