harga paket aqiqah dan catering dus

harga paket aqiqah dan catering dus

banner produk

Selasa, Agustus 02, 2011

Sensus Ternak BPS 2011 dan Swasembada Sapi

Sensus Ternak BPS 2011 dan Swasembada Sapi

Badan Pusat Statistik memasuki tahap akhir sensus ternak pada tahun 2011 ini. Jumlah sapi dan kerbau yang telah didata  mencapai 99,8 persen atau hanya tersisa 0,2 persen.  Untuk jumlah sapi potong mencapai 14,43 juta, kerbau 1,27 juta, dan sapi perah 574 ribu ekor. Sehingga jumlah keseluruhan sekitar 16,3 juta ekor.

Kepala Badan Pusat  Statistik Rusman Heriawan menilai, dengan hasil tersebut maka Indonesia sudah dapat dikatakan swasembada. Maksud swasembada, jelasnya, yakni 90 persen pemenuhan kebutuhan berasal dari sapi lokal, sedang sisanya impor. “Kalau bicara 10 persen saja sebenarnya diatas kertas kita sudah swasembada,”ujar Rusman di Kompleks Istana Negara, Kamis (7/7).
Komentar saya (yuari) “Dengan capaian sapi potong sebanyak 14,3 juta, kita harus mengakui itu adalah prestasi, namun harus dipahami bahwa  jenis sapi asli indonesia mendominasi lebih dari 50 % populasi (sapi bali, pesisir, po, madura, dll) yang relatif lebih kecil dari sapi jenis persilangan. Sehingga prediksi terhadap produksi daging tentu lebih kecil. Hal tersebut berimplikasi terhadap batas klaim swasembada sapi. Dengan populasi 14,3 juta ekor sapi potong, kita tidak bisa mengklaim begitu saja bahwa kita telah mencapai swasembada sapi 90%. Perlu adanya perhitungan tentang prediksi produksi daging sapi lokal, agar terukur benar dan benar-benar swasembada sapi dan buka swasembada semu “.
Namun persoalannya sekali lagi tidak selesai pada data  swasembada. Menurut Rusman masalah distribusi harus terus diperbaiki. Sehingga tidak ada daerah yang kekurangan. “Bagaimana mempertemukan antara suplai  dan demand. bagaimana mempertemukan 6 juta peternak kecil ini,”kata Rusman.
Sementara itu soal  dibukanya kembali impor sapi Australia ke Indonesia, itu secara jangka panjang akan merugikan buat para peternak. Karena harga yang sebelumnya membaik akan kembali anjlok dengan membanjirnya sapi dari luar. Akibatnya para peternak enggan kembali menjalankan usahanya. “Memang secara jangka pendek kita masih butuh (impor), tapi kita harus bertahap untuk mengandalkan dalam negeri,”katanya.
Menteri Pertanian Suswono mengakui, permasalahan sebenarnya berada pada distribusi. Contoh mengangkut dari Nusa Tenggara Timur itu lebih mahal dibanding dari Darwin Australia. Oleh karena itu, dia meminta supaya masalah transportasi ini dapat terus dibenahi.
Suswono juga mengusulkan supaya Kementerian Perhubungan menghidupkan kembali transportasi pengiriman melalui kereta api. “Sekarang kan pakai truk, jelas lebih mahal, juga dari sisi kesehatan hewan akan terganggu,”kata Suswono.
Terkait keinginan Australia untuk kembali mengirimkan sapi, Suswono tidak mempermasalahkannya. Karena mengimpor sapi tetap menguntungkan buat dalam negeri karena memilki nilai tambah. Kalaupun mereka tetap menghentikan ekspor, Indonesia tetap tidak akan terpengaruh. Apalagi jika melihat survei yang telah dilakukan oleh BPS.  ”Meski kami belum mendapat data rincinya, tetapi sensus ini sangat menggembirakan,”jelasnya.
http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/11/07/07/lnymbp-bps-indonesia-sudah-swasembada-sapi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Belanja online

AL-An'am di muat di POS DESA&SUNDA URANG

AL-An'am di muat di POS DESA&SUNDA URANG
POS DESA dan Majalah Sunda Urang

peta lokasi