banner produk

Minggu, Juli 10, 2011

Ada Apa dibalik Pelarangan Impor sapi Australia ke Indonesia

Inikah jagal sesuai kehendak Australia,apakah ada doa?,apakah sesuai dengan adab potong Islami?
Hari demi hari dalam sepekan terakhir, koran, teve, majalah danradio di Australia memainkan gending kemarahan dan gong cemoohan padapemerintah dan orang-orang di Indonesia yang mereka anggap ‘bengis’,‘sadis’ dan ‘kelewat batas’ dalam memperlakukan sapi-sapi imporAustralia.
Pangkal soalnya adalah sebuah video yang merekam‘detik-detik terakhir’ sapi-sapi impor itu di belasan rumah jagal sapidi Indonesia. Seperti Holocaust, kata seorang warga menyamakan‘kematian perlahan’ sapi-sapi Australia dengan ‘kisah besar’pembantaian orang-orang Yahudi di Eropa. Tak ada beda dengan ceritakelam perdagangan budak, kata warga lainnya yang menyaksikan penggalanvideo produksi seorang perempuan ‘aktivis hak-hak binatang’ dariAustralia.

Tapi sampai di sini, sebagian orang mungkin inginsegera bertanya: kenapa Australia begitu peduli pada nasib sapi potongdi saat mereka jarang menunjukkan kepedulian pada manusia yang matikena sambar bom, pelor, dan mortir? Bukankah yang terakhir adalahcerita rutin invasi haram pasukan pendudukan pimpinan Amerika Serikatatas Afghanistan dan Irak dalam satu dekade terakhir – dan ribuanserdadu Australia termasuk di dalamnya? Tidakkah pula jumlah foto,video dan statistik kejinya pendudukan oleh pasukan asing itu –termasuk oleh tentara Australia hingga detik ini – telah menyamaidebur ombak yang membasahi pasir di tepi pantai namun publik Australiakukuh mengikhlaskan sebagian uang pajak mereka untuk membiayai perangatas negara berdaulat?

Pemerintah dan media di Australianampaknya menganggap invasi, penjajahan dan cerita kelam pembunuhanwarga sipil sebagai sesuatu yang wajar – tapi tidak untuk sapi mereka.

Pekanlalu, Canberra secara resmi mengumumkan embargo atas 11 rumah potonghewan di Indonesia yang ‘kebiadabannya’, kata mereka, terekam dalamvideo. Ini bagian dari pembelajaran, katanya, sekaligus upayamenyelamatkan ‘citra’ Australia, sebagai negara yang menghormatihak-hak binatang, di mata dunia.

Beberapa anggota parlemen diAustralia melangkah lebih jauh, mendesak blokade total jika Jakarta takkunjung memperbaiki fasilitas dan ‘etika’ rumah potong hewan. “Yangterjadi di Indonesia begitu sistemik, sistem telah rusak, kekejamanatas hewan begitu merata hingga kita tak punya pilihan lain,” kataseorang senator seperti dikutip The Sydney Morning Herald.

Pemeriksaan Islam Timesmenunjukkan Australia punya cukup ‘berpengalaman’ memainkan ‘senjata’embargo sapi atas negara-negara yang lemah dalam kemandirian pangan.

Pada2006, Australia mengembargo ekspor sapi ke Mesir setelah munculnyasebuah dokumenter berdurasi 60 menit seputar perlakukan biadab atashewan-hewan potong dari Australia. Perekam video di rumah jagal Kairokala itu adalah seorang aktivis lingkungan Australia bernama Lyn White.

Posisi Mesir di tahun itu terjepit seperti Indonesia sekarangini, banyak bergantung pada Australia dalam soal sapi dan daging beku.Tak punya niat melawan, Mesir kemudian tunduk dan meneken sebuahtraktak perdagangan yang sesuai dengan selera pemerintah Australia.

RezimHusni Mubarak membanggakan traktak itu, meski isinya sebenarnya mudahdibaca; sebuah ‘imperialisme modern’ dengan Australia sebagai tuan.

Padatahun 2010, Australia lalu ‘bermurah hati’ membuka kran embargo setelahMesir menunjukkan kepatuhan yang tinggi pada semua syarat dalamtraktak. Persisnya, Mesir telah mendirikan sebuah fasilitasberteknologi canggih yang ‘menjamin’ seluruh sapi impor dari Australiadiperlakukan ‘layak’.

Sesuai traktak, hari-hari ini, seluruhkapal pengangkut sapi impor dari Australia hanya boleh berlabuh diPelabuhan Ain Sokhna di Mesir dan begitu turun dari kapal sapi-sapi itukemudian diarahkan ke sebuah sebuah ‘kawasan tertutup’, semacam kawasanberikat di Jakarta, yang menghubungkan pelabuhan, fasilitas penggemukansapi dan rumah potong. Sebuah jalan 800 meter dibuat khusus untuk rutesapi-sapi impor itu dari dermaga ke kawasan tertutup.

Di dalamkawasan tertutup itu, terdapat area penggemukan yang sanggup menampung25.000 ekor sapi. Australia mengharuskan setiap sapi diberi kandangyang layak, cukup sinar matahari, cukup udara, air segar, dan makananbergizi untuk dua kali sehari.

Tapi itu baru separuh cerita.Traktak mengharuskan data setiap sapi impor yang masuk ke Mesir terekamdalam National Livestock Identification System, atau NLIS. Sapi impordari Australia kemudian diberi tag khusus di telinga dan setibanya diSokhna, penanda elektronik itu kemudian dipindai sehingga terdaftardalam sistem komputer. Dengan satu dua kali klik, eksportir diAustralia bisa memastikan tak ada sapi dari Australia yang dibawakeluar dari kawasan Ain Sokhna.

Terakhir, soal penyembelihan.Australia membanggakan fasilitas yang baru ini. Katanya, sapi-sapiimpor tak bakal mendapat perlakuan ‘kasar’ lagi. Sapi-sapi itu hanyaperlu ‘berjalan sendiri’ ke rumah potong, jaraknya 50 meter dari areapenggemukan. Di rumah potong, katanya, sapi-sapi itu bakal disembelihdengan fasilitas dan proses canggih, bersih, semodern rumah potong diAustralia. Ada klaim juga kalau rumah potong hewan di Ain Sokhna saatini memenuhi standar Uni Eropa.

Pada 2010, Australia mengekspor56.441 sapi ke Mesir dengan nilai transaksi A$ 48 juta. Sebagaiperbandingan, di tahun yang sama, Indonesia mengimpor 520.987 ekor sapidari Australia, menjadikan Indonesia sebagai konsumen terbesar.

Penjajahan ala Mesir
Pemeriksaan lebih jauh Islam Times atas pemberitaan media Australia menunjukkan adanya gelagat kuat Canberra untuk menduplikasi – dengan sedikit modifikasi – langkah sukses mereka ‘menginvasi’ sektor peternakan Mesir.

Bermiripandengan Mesir, kemarahan publik Australia pada Jakarta saat ini dipicuoleh sebuah video yang merekam ‘nestapa’ sapi-sapi Australia di rumahpemotongan hewan di belasan tempat di Indonesia. Video itu adalah hasilrekaman Lyn White, perempuan yang sama yang merekam kebrutalan di rumahjagal di Kairo, Mesir, pada 2006.

Awal pekan ini, di tengahmembesarnya desakan publik Australia agar Jakarta mendapatkan sanksidagang seperti Mesir dulunya, koran The Sydney Morning Heraldmengabarkan rencana Australia memberlakukan ‘pembatasan’ ekspor sapi keIndonesia. Termasuk dalam rencana sepihak ini adalah penerapanelectronic monitoring system, ‘akreditasi’ rumah potong dan perusahaanpengemukan sapi, dan pengawasan fasilitas rumah potong yang melibatkan‘ahli independen’.

Kata koran, Australia bakal membatasi ekspor hanya ke 10 tempat penjagalan yang mereka tetapkan ‘berklasifikasi A’ – dari total 100 rumah potong di seluruh Indonesia.Rumah potong pilihan ini nantinya bakal diakreditasi, dinilaikelayakannya oleh pemerintah Australia. Yang tak masuk klasifikasibakal diberi tawaran peningkatan kualitas via skema ‘pendanaan danpendidikan dari pemerintah Australia’. Australia juga berencana hanyamengeluarkan izin ekspor pada produsen sapi Australia yang bermitradengan perusahaan penggemukan sapi di Indonesia yang telah mendapatkanakreditasi dari Canberra, kata koran.

Dengan semua rencanabesar itu, Canberra nampaknya ingin memastikan Indonesia berada dalamsiklus ketergantungan yang panjang. Toh, mereka juga sudah lama cemasdengan keinginan Jakarta mencapai swasembada daging pada 2014. Jikasukses, swasembada berarti susutnya penerimaan Australia dan inisekaligus kiamat kecil bagi puluhan ribu warga Australia yangmenggantungkan hidupnya dari ekspor sapi dan daging beku ke Indonesia.

Jakarta kini hanya punya dua pilihan: (a) tunduk pada embargo dan skema ‘pembatasan’ Canberra seperti Mesir takluk pada kuasa dan tekanan Australia, atau; (b) menggiatkan langkah swasembada daging dan sapi potong dan membiarkan Canberra merepet sampai mati

1 komentar:

  1. Stuju sm lngkh yg kdua. Qta kya dngan sda, hrus dkmbngkn dngn cmpr tngan yg Mnciptkn sapi agar berkmbng dn barokah

    BalasHapus

Belanja online

AL-An'am di muat di POS DESA&SUNDA URANG

AL-An'am di muat di POS DESA&SUNDA URANG
POS DESA dan Majalah Sunda Urang

peta lokasi