banner produk

Kamis, Juni 09, 2011

Sapi: Australia Ancam Stop Ekspor Sapi, Pemerintah Tak Takut

Para pekerja mengeluarkan sapi impor ilegal yang berasal dari Australia di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta (23/5). TEMPO/Eko Siswono Toyudho

TEMPO Interaktif, Semarang -  Pemerintah menduga ancaman Australia menghentikan pasokan sapi ke Indonesia terkait dengan pencanangan swasembada daging sapi. "Australia terlalu khawatir dengan program swasembada ini, seolah-olah tidak ada lagi impor sapi dari Australia," ujar Menteri Pertanian, Suswono, akhir pekan lalu.

Padahal, rencana swasembada tidak sama dengan penghentian impor. Dia menjelaskan, pada 2014 Indonesia menargetkan impor daging sapi hanya 10 persen dari total konsumsi nasional. Target ini hanya persentase dan bukan jumlah daging yang diimpor. "Jangan dikira kalau volume lebih kecil, dagingnya akan lebih kecil dari jumlah impor."

Saat ini kebutuhan daging sapi mencapai 430 ribu ton per tahun. Dari jumlah ini, sebanyak 25 persen atau 100 ribu ton daging berasal dari impor.

Konsumsi daging sapi di Indonesia dinilai masih rendah atau sekitar 2 kilogram per kapita selama setahun. Suswono mengatakan, jika pada 2014 ada penambahan penduduk dan pendapatan per kapita naik, konsumsi daging juga ikut meningkat.

Bila konsumsi daging bertambah menjadi 500 ribu ton dan jumlah impor tetap sekitar 100 ribu ton, persentase impor akan turun menjadi 20 persen. Nah, kondisi ini, kata Suswono, yang dikhawatirkan Australia.

Dengan kondisi ini, pemerintah tak khawatir terhadap ancaman Australia yang akan menghentikan ekspor sapi ke di Indonesia. "Silakan, itu hak mereka. Kami bisa cari pilihan-pilihan alternatif." Lagipula, kata dia, kebijakan impor sapi hanya untuk menutupi kekurangan pasokan daging dari dalam negeri.

Pekan lalu, Menteri Pertanian Australia Joe Ludwig menginstruksikan mengkaji ulang ekspor sapi potong ke Indonesia. Instruksi ini menyusul tayangan program televisi Australian Broadcasting Corp bertajuk Four Corners. Dalam tayangan tersebut, digambarkan tata cara penyembelihan sapi yang "tak patut". Misalnya, leher sapi ditebas berulang kali sebelum hewan itu akhirnya mati.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Gunaryo, berharap penundaan ekspor sapi Australia tidak akan menimbulkan efek psikologis pada harga daging sapi. "Kami ingin tak ada kenaikan harga," ujarnya kemarin.

Harga daging sapi sampai pekan lalu masih stabil atau Rp 68.233 per kilogram. Kenaikan harga tertinggi hanya terjadi pada 30 Mei lalu, yaitu mencapai Rp 68.322 per kilogram. Namun, pada 31 Mei, harga kembali turun menjadi Rp 68.270 per kilogram.

Kenaikan harga daging sapi, kata Gunaryo, biasanya terjadi menjelang puasa dan Lebaran karena permintaan naik 10-20 persen. "Harga hanya naik sekitar 5 persen."

Untuk mengamankan pasokan daging sapi dalam negeri, pemerintah masih mengandalkan sentra-sentra sapi di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur. "Khusus wilayah Jakarta dan sekitarnya biasanya dari daging beku impor."

Direktur Jenderal Peternakan, Prabowo Respatiyo, memastikan pasokan dari Australia ke Indonesia tak dihentikan. "Kecuali pada 12 rumah potong hewan yang diidentifikasi tidak mengikuti animal welfare."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Belanja online

AL-An'am di muat di POS DESA&SUNDA URANG

AL-An'am di muat di POS DESA&SUNDA URANG
POS DESA dan Majalah Sunda Urang

peta lokasi