banner produk

Sabtu, Maret 05, 2011

Pemberdayaan : Perenungan Pak Tua dan gerobaknya

Kisah dibawah ini sederhana namun sangatlah mendalam maknanya, hal yang harus dihindari adalah kerakusan yang menjadi sifat manusia ketika harta atau keuntungan besar di depan mata,namun menjadi tidak berguna ketika orang lain merasa dirugikan dan menjadi tidak berkah , Kami pengelola Al-AN'AM lebih mengedepankan keberkahan berbisnis,bermanfaat bagi banyak orang dan jauh dari kami untuk melakukan niatan yang tidak baik dalam berusaha demi keuntungan yang besar(Astagfirulloh)

Alkisah di depan gerbang sebuah kampus negeri ternama di kota Bandung. Setiap hari, dari sore menjelang malam sampai dini hari sekitar jam 2.00, di tempat itu selalu beraktifitas seorang bapak tua yang sangat bersemangat, penjual gorengan. Tak jarang terlihat si bapak sampai tertidur pulas di kursi kayu antiknya menunggu gorengan-gorengannya terjual habis,bahkan sampai transaksi jual beli hanya sepihak saja, yang makan itung sendiri, bayar sendiri karena si bapak sedang tertidur pulas. banyak anak-anak kampus sudah terbiasa mengkonsumsi panganan paling merakyat yang dijual bapak ini.

Suatu waktu, sebuah himpunan mahasiswa di pojok timur kampus sedang akan mengadakan gathering himpunan. Karena alasan agar acaranya terasa lebih dekat dan merakyat, disepakatilah kalau untuk konsumsi akan membawa gerobak-gerobak panganan disekitar kampus ke dalam acara dan membeli semua isinya pada malam itu, termasuk gerobak gorengan bapak tua tadi.

Panitia mendatangi bapak tua dan menceritakan hajat mereka untuk membantu meringankan beban bapak tua tadi dengan membeli semua gorengannya pada malam itu. Di benak para panitia berpikir, “ndak mungkin bapaknya ga mau, tanpa susah payah begadang sampai pagi,tapi gorengannya kita borong semua:”. Di luar dugaan para panitia, ternyata bapak tua ini menolak dengan halus, sembari berkata, “terima kasih mas buat tawarannya ke bapak, tapi maaf bapak tidak bisa, kalau gorengan bapak mas borong semua, trus kasian kan kawan-kawan mas yang lain yang juga ingin makan gorengan bapak malam mini…sekali lagi maaf”. Para panitia terdiam, kemudian pamit pergi dengan masih menyimpan kebingungan di benak mereka.

Kawan, dalam hidup, sering kita dituntut untuk menyikapi keadaan-keadaan yang lebih dari satu tapi datang dalam waktu yang bersamaan, tepat bahkan. Mungkin disinilah hikmahnya Allah melengkapi kita dengan hati dan akal, agar kita bisa menimbang dengan baik untuk memutuskan yang mana, yang paling dekat dengan timbangan Allah tentunya. Dan bijak tidaknya kita menimbang pilihan tentu akan menceritakan siapa kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Belanja online

AL-An'am di muat di POS DESA&SUNDA URANG

AL-An'am di muat di POS DESA&SUNDA URANG
POS DESA dan Majalah Sunda Urang

peta lokasi